Selasa, 20 Oktober 2009

Perang melawan terorisme

Perang melawan terorisme di Indonesia membawa implikasi yang sangat komplek terhadap kehidupan beragama, berbangsa dan bernegara. Kalau masyarakan mensalah-artikan terorisme itu sebagai label yang selalu menempel pada aktivis Islam. hal ini tidak terlepas dari peran media massa dan kebijakan pemerintah yang direpresantasikan oleh aparat kepolisian (baca: Densus antiteror 888). Media Massa sudah menebar opini yang kebablasan yang kemudian diamini oleh masyarakan luas bahwa "seakan-akan" semau aktivitas yang berhubungan dengan dakwah keislaman, pesantren, kelompok-kelompok Jama'ah harus selalu dipantau dan dicurigai aktivitasnya. Mereka yang berpakaian "aneh" seperti memakai gamis, celana semata kaki, berjubah dan memelihara jenggot, berpenampilan Timur-Tengah adalah kelompok masyarakat yang harus selalu diwaspadai dan diawasi aktivitasnya. Hal ini menimbulkan trauma yang sangat mendalam bagi generasi muda Islam. Mereka akan berpikir-pikir dulu sebelum masuk pesantren dan bersekolah di sekolah Islam. mereka akan mencurigai sesama muslimnya yang tidak memakai Jeans, T-shirt dan sejenisnya. Konsekwensinya, segala simbol-simbol ke-Islam-an lambat laun akan menjadi asing di negeri ini dan gaya hidup ke-Barat-Barat-an akan semakin mejamur. Ini adalah buah dari tindakan over generalisasion sebagai counter terhadap tindakan beberapa oknum (baca: Nurdin M. Top dkk) yang melakukan aksi dengan caranya sendiri dengan mengatasnamakan Islam. Ini tentu saja tidak adil kalau penilaian terhadap Islam hanya melekat pada beberapa person, padahal umat Islam di bumi ini mencapai 1,5 milyar lebih. Banyak yang berpendapat bahwa ini merupakan bagian dari rekayasa global dalam rangka combat terhadap Islam.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar